Tren Lantai Tidak Disukai di Tahun 2026, Menurut Desainer

9

Para desainer memperkirakan adanya pergeseran preferensi lantai pada tahun 2026, beralih dari pilihan yang kaku, dingin, atau terlalu berpola ke bahan yang lebih hangat, lebih alami, dan lebih aman. Tren yang memudar termasuk ubin kotak-kotak klasik, warna abu-abu, porselen polos, vinil berpenampilan ubin, dan hasil akhir yang sangat mengkilap. Perubahan-perubahan ini mencerminkan pergerakan yang lebih luas menuju rumah yang terasa layak huni dibandingkan hanya dibuat-buat, dengan mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan dibandingkan kesempurnaan yang steril.

Penurunan Ubin Kotak-kotak Hitam Putih Tebal

Meskipun pernah menjadi bahan pokok dalam desain retro, ubin kotak-kotak hitam dan putih yang tebal mulai tidak lagi disukai. Pendiri firma desain Damla Turgut mencatat bahwa kontras yang tinggi dapat membuat visual Anda kewalahan. Sebaliknya, desainer beralih ke warna yang lebih lembut dan bernuansa dengan kombinasi seperti unta dan putih krem, atau merah marun yang dipadukan dengan warna netral yang hangat. Pergeseran ini mempertahankan ritme grafis sekaligus menciptakan estetika yang lebih abadi dan pemaaf.

Akhir dari Lantai Abu-abu Berwarna Dingin

Dominasi lantai laminasi, vinil, dan ubin berwarna abu-abu sejuk memudar seiring tren interior yang condong ke arah warna yang lebih hangat dan kaya. Lantai abu-abu dikritik karena meratakan cahaya alami dan berbenturan dengan palet hangat yang disukai orang-orang. Desainer merekomendasikan untuk kembali menggunakan madu, kayu ek alami, toffee, dan kenari—apa pun yang hangat dan bervariasi. Tren ini menyoroti keinginan yang lebih luas akan kenyamanan dan kenyamanan interior.

Dari Porselen Steril hingga Batu Alam

Ubin porselen polos tidak lagi disukai karena meningkatnya permintaan akan bahan alami dan tekstur yang tidak sempurna. Desainer interior Laura O’Brien menunjukkan bahwa porselen generik bisa terasa dingin dan bermanfaat. Namun, porselen yang dirancang meniru batu alam, atau penggunaan batu alam itu sendiri, tetap menjadi ciri khas kualitas dan cita rasa yang tak lekang oleh waktu. Hal ini menekankan semakin besarnya preferensi terhadap keaslian dibandingkan produk alternatif yang diproduksi secara massal.

Melampaui Kesibukan Vinyl Kupas dan Tempel

Ubin vinil bermotif sibuk yang dirancang untuk meniru ubin dunia lama juga digantikan oleh alternatif yang lebih halus dan berefek batu. Desainer Nina Lichtenstein menjelaskan bahwa pola sibuk ini sering kali dianggap teatrikal dan bukannya abadi. Fokusnya beralih ke materi yang membangkitkan ketenangan dan keterhubungan daripada bersaing untuk mendapatkan perhatian. Hal ini mencerminkan keinginan untuk menciptakan ruangan yang tidak terlalu berantakan secara visual.

Penolakan Hasil Akhir yang Sangat Mengkilap

Lantai ultra-gloss, mengingatkan pada lobi hotel, tidak lagi dianggap mewah. Damla Turgut mencatat bahwa lantai high-gloss terlihat dingin dan kurang menarik, lebih menyerupai “rumah pamer” daripada ruang tamu sebenarnya. Selain itu, lantai mengkilap tidak praktis, memperlihatkan setiap jejak kaki dan menimbulkan bahaya terpeleset. Hasil akhir matte dan terasah menawarkan alternatif yang lebih membumi, elegan, dan lebih aman.

Pada akhirnya, perubahan tren lantai ini menandakan pergerakan yang lebih luas menuju interior yang memprioritaskan kehangatan, keaslian, dan kelayakan untuk ditinggali dibandingkan kesempurnaan yang dingin. Desainer membimbing pemilik rumah menuju material yang tidak hanya terlihat bagus tetapi juga terasa nyaman di kaki, menciptakan rumah yang bergaya dan nyaman.